skip to main | skip to sidebar

Pages

  • HOME

dunia oelan

THE 6th AGRINEX EXPO 2012 – REUNI HANTER

09.12 | Publish by antara seni dan cerita




Jakarta – Kegiatan Agrinex Expo 2012 yang berlangsung dari tanggal 30-31 Maret dan 01 April 2012 terselenggara berkat kerjasama antara IPB, Perfomax, Kementerian Pertanian dan Yayasan Coop Indonesia. Agrinex Expo 2012 yang mengusung tema “Agribusiness for All” diharapkan dapat mengembangkan agribisnis di Indonesia yang benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Institut Pertanian Bogor (IPB) sendiri memamerkan 131 produk inovasi penelitian yang masuk dalam Bussines Innovation Center (BIC), Kementerian Riset dan Teknologi di Agrinex Expo 2012. Produk-produk yang ditampilkan diantaranya pengeringan “3 In 1″ sederhana, biodigester portabel penghasil biogas, gedhek (dinding bambu) modern, papan semen gipsum dari tanaman kenaf, rolling oil berbahan dasar minyak jarak, sawit dan produk lainnya.
Menteri Pertanian Dr. Suswono dalam pembukaan Agrinex Ekspo ke-6 di Jakarta Convention Center (JCC) Jumat (30/3/2012) mengatakan bahwa program pembangunan pertanian merupakan upaya untuk memfasilitasi dan mendorong usaha pertanian sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi baik di pasar domestik maupun internasional yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani.
Pada kesempatan kali ini juga digelar acara Reuni Hanter-the 6th agrinex expo. Acara ini dihadiri juga oleh menteri pertanian RI, Dr. Suswono, yang juga merupakan salah satu alumni IPB. kegiatan Agrinex Expo 2012 yang bertempat di Hall A dan B Jakarta Convention Center (JCC) ini secara keseluruhan berlangsung dengan baik. [OE]


0 komentar

ROADSHOW BEDAH EDITORIAL GOES TO IPB

05.08 | Publish by antara seni dan cerita

ROADSHOW BEDAH EDITORIAL GOES TO IPB
‘Negeri Kaya Nan Rawan Pangan’

Rabu (14/3) – Indonesia mendapat predikat sebagai negara yang memiliki varian tanaman pangan paling beragam di dunia. Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa ini, merupakan negeri yang kaya namun predikat tersebut tidak begitu saja membuat warganya cukup akan ketersediaan pangan. Data Kementerian Pertanian menyebutkan saat ini daerah rawan pangan di Tanah Air sekitar 4,5%, terutama berada di Indonesia bagian timur. Berdasarkan global hunger index (indeks kelaparan dunia), yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa, dari lima kategori ('sangat mengkhawatirkan', 'mengkhawatirkan', 'serius', 'moderat', dan 'rendah'), Indonesia termasuk negara yang berkategori 'serius' terancam rawan pangan. Kategori 'serius' rawan pangan tersebut tergolong buruk karena hanya satu tingkat di atas kategori khususnya Indonesia, Metro TV dan Media Indonesia (MI) kembali menggelar acara Road Show Bedah Editorial Goes to Campus, yang kali ini bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasution, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Jawa Barat.

Road Show Bedah Editorial Goes to Campus ini dihadiri oleh Direktur Pemberitaan Metro TV Suryo Pratomo sebagai pembicara, presenter Metro TV Gadiza Fauzi sebagai moderator, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Herry Suhardiyanto MSc, Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong, dosen IPB, mahasiswa, dan undangan ini mengangakat tema ‘Negeri Kaya Nan Rawan Pangan’. Acara ini juga dimeriahkan performance dari Gentra Kaheman, pembagian doorprize, serta lomba membaca berita.

Menurut Usman Kansong (Direktur Pemberitaan Media Indonesia) pada sambutannya, editorial merupakan pendapat yang didasarkan pada fakta yang terjadi sebenarnya yang bersifat subjective. Ukuran untuk memandang suatu object antara satu orang dengan yang lain jelas akan berbeda. Konsep editorial yang dibuka ke public itu tergolong baru dan seharusnya terus dikembangkan. Hal ini akan sangat membantu dalam menilai sesuatu object secara lebih luas, dan menggali lebih dalam tentang fakta-fakta yang ada di dalamnya.

Ya, Indonesia yang berada pada kategori 'serius' terancam rawan pangan ini mengundang banyak kontroversi. Indeks kelaparan dunia itu menunjukkan 122 negara masih dalam tahap berkembang dan transisi. Sebanyak 29 negara masih memiliki tingkat kelaparan yang 'sangat mengkhawatirkan' dan 'mengkhawatirkan', antara lain Burundi, Chad, Republik Demokratik Kongo, dan Eritrea. Sebagian besar negara-negara dengan kategori 'mengkhawatirkan' berada di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Itu berarti negara-negara tersebut hanya satu tingkat lebih jelek jika dibandingkan dengan Indonesia dalam hal rawan pangan.

Bagi negara-negara di Afrika dengan varian tanaman pangan terbatas, ancaman rawan pangan dapat dianggap wajar. Akan tetapi, bagi Indonesia yang memiliki keragaman jenis tanaman pangan, ancaman rawan pangan merupakan ironi. Thailand yang notabene mendapat pasokan pupuk dari Indonesia malah lebih unggul sektor pertaniannya dibandingkan Indonesia sendiri. Bahkan Raja Thailand jelas mengungkapkan kepada ibu Megawati, yang pada saat itu masih menjadi presiden Republik Indonesia, bahwa Thailand mempelajari pertanian itu dari Indonesia.

Suryo Pratomo atau lebih akrab dipanggil Bung Tomi mengatakan, “kemana passion pertanian kita? Orang-orang Indonesia sekarang seakan lebih bangga jadi tukang ojek dibandingkan menjadi petani”. Grand design untuk Indonesia itu sudah masalah klasik. Indonesia dituntut berubah menjadi modern kearah sektor industri, tetapi seakan melupakan pertanian. Padahal Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia) pernah berkata bahwa soal makan untuk rakyat adalah soal hidup atau mati. Berbeda dengan Indonesia, Cina telah menjadi negara industri (pada bagian timur) yang tetap menjaga sektor pertaniannya (pada bagian barat). Jika di Indonesia bisa 2-3 kali panen dalam satu tahun, di Cina hanya satu kali dalam satu tahun. Bukankah ini sebuah ironi?

Banyak petani menjerit karena mereka membeli sarana produksi dengan harga pasar. Tetapi ketika mereka menjual gabahnya, harga jual sudah dipatok oleh pemerintah yang nilainya sangat rendah. Indonesia menjadi produsen pupuk, tetapi petani kita masih sulit mendapatkan bantuan pupuk. Kondisi real di lapangan jelas berbeda ketika kita melihat bagaimana kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Banyak lembaga-lembaga dibuat secara khusus, namun jika kita mengevaluasi hal tersebut tidaklah efektif malah makin membuat anggaran dana membengkak. “Indonesia ibarat tikus yang mati dalam lumbung padi,” tambah Bung Tomi.

Media Indonesia menambahkan, penyebab masalah ini adalah kebijakan pangan nasional yang banyak salah. Di antaranya 'penyeragaman' makanan pokok, yakni beras, yang kian tidak terkendali. Di sisi lain, lahan untuk menyemai padi terus tergerus. Hampir tidak ada sudut di negeri ini yang tidak mengonsumsi nasi. Padahal, dulu kita mengenal warga Madura dengan makanan pokok jagung dan warga Maluku sagu. Semua kearifan lokal itu punah. Akibatnya, ketika persediaan beras menipis dan panen padi gagal, rawan pangan pun tak terelakkan. Karena itu, kebijakan pangan nasional harus serius untuk mendiversifikasikan pangan. Kebijakan pangan yang salah lainnya adalah lebih mementingkan ekspor, padahal kebutuhan dalam negeri belum tercukupi. Indonesia yang kaya laut, misalnya, ternyata defisit ikan hingga 1 juta ton per tahun. Tidak sinkronnya pemerintah pusat dengan pemerintah daerah juga berdampak pada implementasi kebijakan pangan yang dibuat. Bung Tomi menambahkan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusianya, dan kemampuan pemimpinnya dalam menentukan tujuan dan arah negaranya berkembang.

Ancaman rawan pangan memang bukan monopoli Indonesia. Namun, kita berbeda dengan negara-negara lain yang lebih sigap mengantisipasi ancaman tersebut. China, Filipina, bahkan Thailand dan Vietnam yang menjadi lumbung beras sudah memulai gerakan mengamankan cadangan pangan dalam negeri mereka dari ancaman pangan. Tapi di sini, yang terjadi masih masalah soal apakah benar kita surplus beras atau tidak. Bahkan, kita masih terjebak dalam perdebatan soal benar-tidaknya negeri ini rawan pangan. Kita harus benar-benar fokus pada sektor pertanian. Passion pertanian itu sangat penting untuk mendorong inovasi-inovasi dalam pengembangan sektor pertanian. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat dapat membuat Indonesia kearah yang lebih baik lagi. [OE]

Label: media indonesia, metro tv, roadshow bedah editorial 0 komentar

Keluh dan Kesah Penelitian..

02.49 | Publish by antara seni dan cerita

Kalo kata orang yang namanya penelitian itu sama aja kayak cobaan hidup. Kita bisa ketawa, bisa seneng, bisa nangis, bisa sedih, bisa galau, bisa bosen, bisa semangat, bisa lelah.. lebih berwarna daripada hanya sekedar kuliah. Kalo kita penelitian satu tim, kita bisa tahu sifat dan pemikiran masing-masing. Ga Cuma itu, kita juga harus bisa menjaga emosi kita supaya ga ngaruh ke penelitian. Model penelitian juga macem-macem. Ada yang penelitiannya ide sendiri, ada yang ikut proyek dosen, ada yang dari dana hibah dan sebagainya. Tingkat keruwetan penelitian itu sendiri tergantung dari jenisnya tadi, tapi juga dipengaruhi oleh dosen pembimbingnya, dan teman setim kalo penelitiannya banyakan orang.

Jenis cobaannya macem-macem. Misalnya ada temen gue yang belum selesai penelitian gara-gara harus diulang lagi- diulang lagi. Atau masalah pada kondisi keuangan? Bisa aja. Tapi paling sering ya kalo kerja tim, banyak konflik didalamnya. Mungkin kalo diliat dari luar biasa aja, tapi pas tahu ceritanya baru engeh ternyata kayak gitu. Misal kayak temen gue, mereka 4 orang satu tim. Tapi pas yang satu kelar parameter, entah kemana orangnya. Pas yang satu lagi mau ngamatin parameter, dia harus beli objeknya ke temennya sendiri. Aneh memang.

Kalo lo tanya ke gue gimana penelitian gue? Berwarna sob. Gue udah ganti penelitian dari ternak domba dan akhirnya ke ternak ayam. Kayaknya emank takdir gue balik lagi balik lagi ke ayam. Dulu dua penelitian kreativitas mahasiswa kelompok gue ayam semua. Nah, jodoh emank ga kemana sob. Penelitian gue proyek dosen, jadi harus ngikutin kemana gerak dosen dan owner nya. Ya begitulah, kalo owner maunya gini ya harus gini, kalo dosennya mau gitu ya harus gitu. Gitu nya itu pernah hampir keterlaluan. Waktu itu kan harus buat pakan, nah buatnya kan pake mesin pellet dan mesin crumble. Mesinnya udah ngadat-ngadat terus, jadilah kita buat secara manual dengan tenaga otot. dan pas harus di crumble kan ga bisa, nah kita disuruh ngeremukin tuh pakan secara manual juga alias ‘crumble handmade’. Ya allah itu tuh pas banget udah capek bikin pakan secara manual, eh disuruh dicrumble secara manual juga. Udah lemes banget waktu itu. Dan pelletnya kan keras ya sob, jadi pas diremukin ga remuk-remuk, yang ada tangan pada lecet-lecet sob. Ampun.

Atau pas hari ke 18 pas banget pakan starter abis, yg ada pakan finisher (kalo diliteratur udah pas) tapi tahu-tahu dosennya marah-marah. Ga Cuma ke mahasiswanya, tapi juga ke dosen yang ahli unggasnya. Duh bingung sob. Emang sih ikut proyek katanya ga ngeluarin apa-apa. Tapi ini gue ma tim yg lain udah abis banyak, ga hanya transport yang membengkak karena gue tiap pagi sebelum matahari terbit harus naik ojek ke kandang yang nun jauh disana, tapi juga nyiapin konsumsi atau minum gitu, analisa bahan dan lain-lain harus dibayar dulu. ya harus ada bon nya dulu baru diganti. Tapi tapi kita kan masih mahasiswa sob, pendapatan dari mana kalo dikeluarin terus? Ya semacam ada SDM tapi tidak dimanajemen dengan baik, kurang diperhatikan. Uang yang harusnya bisa keluar langsung aja, tapi keluarnya sedikit-sedikit. Bingung sob, kalo pas ga megang uang gimana coba? Bingunglah.

Dosen atau owner paling datang sekali-sekali. Nah yang paling kerasa ya orang-orang yang satu tim sama kita sob. Gue tiap pagi dating naik ojek sebelum matahari bener-bener terbit. Nah temen gue? Datang jam 7 kurang sob. Kalo gue telat bangung, telat semua, dan gag tahu akan selesai jam berapa tuh piketnya. Dan sumpah kerasa banget naik ojek tiap pagi dengan bayar 7rb selama penelitian yang hampir dua bulan ini. Itu baru berangkat sekali sob, kalo piketnya 2-3 kali sehari? Nah bingung kan. Uang makan gue aja ampe harus diirit-irit banget. Yang biasanya bisa lebih di akhir minggu, ini kurang sob, malah habis sebelum waktunya. Ehm begitulah. Dan lo tahu sob? Punya badan ‘gede’ dan ‘kuat’ tuh kadang gag enak. Orang-orang pasti bakal ngangep lo kuat ngapa-ngapain dan ga punya rasa lelah atau ga perlu bantuan. Kalo lo bilang ga enak badan atau sakit pasti gag ada yang percaya. Bener deh, GAG ADA YANG PERCAYA. Sedih. Disaat gue misalnya ga dateng karena emang lemes banget, rasanya orang-orang menilai berdosa banget, ko tega ga dateng. Kalo kebalikannya? Biasa aja. Jleb. Emang kadang terpikir hidup tuh ga adil, tapi masa iya ga adil? Ga mungkin kan. Yaudah mau diapain lagi. Kalo kata Sheila on 7

‘jika hidup terus berputar, biarlah berputar akan ada harapan sekali lagi..’

Atau pas kerja lo ga dinilai sama dosen, owner atau satu tim lo. Jleb banget rasanya. Udah dua kali dosen gue ngecek ke kandanag, dan temen satu tim gue bilang pas udah pada dateng. Kayak hari ini aja misalnya. Siang tadi gue dikostan lagi sakit perut. Temen gue tiba-tiba sms ngajakin ke kandang. Yaudah gue buru-buru siap-siap. Dia sms lagi kalo ada dosen dan ownernya. Jleb banget. Gue udah buru-buru dateng naik ojek. Sampe san ague sms berkali-kali ke dia buat ke depan ke tempat gue dulu nyamper gue biar kedalemnya bareng, karena kan ga enak y ague dateng telat tiba-tiba masuk. Tapi ga dibales. Gue misscallin ga diangkat. Yaudahlah gue tunggu didepan sendirian kayak orang aneh sampe akhirnya pada pulang. Dan tatapan dosen dan owner gue ya gitu kayak ga nganggep gue, kayak bukan siapa-siapa, padahal gue nyapa mereka. Jleb banget. Dan temen satu tim gue dan yang katanya ‘asisten peneliti’ keluar sambil senyum-senyum ketawa-ketawa dan malah ngeledek gue yang lagi pake pakaian ala mau basket. Tahu rasanya sob?? Sedih banget. Padahal satu tim sob. Gue ga tahan udah sampe puncak sob, pas mereka pergi gue ga bsia nahan perasaan gue lagi. Dan akhirnya keluar juga tuh air mata. Dan untung lagi ada pertandingan volley kelas, gue langsung minta tolong temen gue jemput gue buat ke lapangan buat jadi supporter. Mantep sob, bisa teriak-teriak dengan puas. Suara gue ampe abis. Gue keluarin aja sekalian emosi gue ke teriak-teriak dukung anak-anak kelas. Dan alhamdulliah kelas gue menang. Well, hidup emank kadang gitu sob, jadi orang yang kuat itu harus bener-bener kuat. Aneh rasanya kalo kita pas banget drop, sedih, bahkan kalo ampe nangis. Berasa jadi bocah dan lenjeh banget. Dan gue ga suka sama tipekal bocah, lenjeh atau yang kayak gitulah. Harus bisa bagi-bagi waktu buat ngejalanin kerjaan gue semester ini selain penelitian, ngasprak, basket buat dekan cup, film documenter buat IAC ataupun eagle awards. Bukannya gue ga focus penelitian, tapi gue mau balance sob, kerjaan dan hobby harus balance, itulah gue. Life still go on.. kadang kita diatas, kadang kita dibawah, kadang kita juga dianggap ga ada, tapi selama kita ada, berarti kita harus nikmatin hidup, paling enggak kita udah coba ngelakuin yang terbaik yang bisa dilakuin.. intinya harus tetep semangat! Titik.

0 komentar
« Postingan Lebih Baru Postingan Lama »
Langganan: Komentar (Atom)

Facebook Badge

Maha Wulandari

Create Your Badge

About Me

Foto Saya
antara seni dan cerita
Menulis itu seperti nafas.. Sedangkan memotret itu jiwa.. Dan musik menjadi nyawa nya..
Lihat profil lengkapku

Followers

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Search Box

About

  • OELAN SITE
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Code Test

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...
    Code Test!
  • Suspendisse neque tellus

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...
    Suspendisse neque tellus
  • Curabitur faucibus

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...
    Curabitur faucibus
  • Mauris euismod rhoncus tortor

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...
    Mauris euismod rhoncus tortor
  • Sed nunc augue

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...
    Sed nunc augue

Bookmark Us

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Blog Archive

  • ▼  2012 (3)
    • ▼  April (1)
      • THE 6th AGRINEX EXPO 2012 – REUNI HANTER
    • ►  Maret (2)
      • ROADSHOW BEDAH EDITORIAL GOES TO IPB
      • Keluh dan Kesah Penelitian..
  • ►  2011 (15)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2010 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (7)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2009 (13)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (4)

Labels

  • media indonesia (1)
  • metro tv (1)
  • roadshow bedah editorial (1)
Copyright (c) 2010 dunia oelan. Design by Template Lite
Download Blogger Templates And Directory Submission.